Sabtu, 05 Juni 2010

ANALISIS CERPEN FESTIVAL TOPENG

A


nalisis Cerpen :

FESTIVAL TOPENG”

Karya : Lan Fang


  1. TEMA

Pengertian

Tema adalah makna yang dikandung oleh sebuah cerita menurut Stanton (1965 : 20 ) dan keny ( 1966 : 88 ). Tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung didalam teks sebagai struktur semantis dan yang menyangkut persamaan” / perbedaan” menurut Hartoko dan Rahmanto (1986 : 142 ).

Tema tradisional dimaksudkan sebagai tema yang menunjuk pada tema yang hanya pada itu itu saja, dalam arti ia telah lama dipergunakan dan dapat ditemukan dalam berbagai cerita , termasuk cerita lama . Pernyataan – pernyataan tema yang dapat dipandang sebagai bersifat tradisional itu, misalnya, berbunyi :

  1. kebenaran dan keadilan mengalahkan kejahatan,

  2. tindak kejahatan walau ditutupi akan terlihat juga,

jadi bisa ditarik kesimpulan bahwa tema tradisional ada kaitannya dengan masalah kebenaran dan dan kejahatan ( Meredith dan Fitzgrald 1972 : 66)

Tema nontradisional adalah tema yang melawan arus dimana dalam cerita yang diinginkan itu tidak sesuai apa yang diharapkan pembaca,, misalnya dalam sebuah cerita tokoh yang baik pasti dalam sebuah cerita itu yang pasti menang, namun didalam pengertian ini berbanding terbalik karena dalam pengertian ini tokog yang diharapkan atau di idamkan itu seakan – akan kalah dalam sebuah cerita dan yang jahat menang dan mendapat kejayaan sebagai intinya seakan apa yang diharapkan pembaca tidak sesuai dengan isi yang terkandung dalam sebuah cerita tersebut.


Dari beberapa pengertian diatas, dapat dijelaskan bahwa dalam cerpen Festival Topeng ini tema yang digunakan adalah menggunakan tema yang Nontradisional, karena dalam cerpen tersebut tidak ada pertempuran atau tidak ada konflik pribadi. Karena jika kita pertama kali membaca pasti yang terfikir adalah para Pakde Wan atau peserta festival topeng akan memenangkan lomba tersebut, dan Drajat Hartono atau pembuat topeng tidak akan mengikuti lomba tersebut.

Namun setelah kita baca sampai pertengahan, istri Drajat Hartono yaitu Prameswari mengidam-idamkan dirinya sebagai seorang permaisuri yang duduk di atas singgasana, dengan harapan itu akhirnya Prameswari menyuruh Drajat Hartono istrinya mengikuti Festival Topeng itu juga, karena dia yakin dengan topeng Rahwana yang ia kenakan, maka Drajat Hartono akan memenangkan Festival Topeng tersebut.

Hal itu dapat dilihat dari cuplikan dialog sebagai berikut,


Bukti-bukti :

Kemudian sampailah kami pada suatu waktu yang terasa aneh. Mendadak saja, setiap hari rumahkami didatangi para pembeli topeng. Mereka datang dengan mobil mengkilap dan mengenakan baju safari. Jas atau batik sutra yang selalu necis dan licin. Ada yang rambutnya klimis seakan-akan sebotol minyak rambut ditumpahkan di sana. Ada yang bergaya flamboyan dengan kumisnya.


siapakah mereka?” tanyaku keheranan.

mereka semua kupanggil Pakde Wan. Merekalah yang memesan topeng-topeng itu.”

tampaknya mereka adalah orang-orang kaya. Mereka membayar topeng tanpa menawar. Dan mereka gembira ketika mendapatkan topeng yang sesuai dengan keinginan mereka. Sebenarnya apa pekerjaan mereka?” tanyaku keheranan.?” Tanyaku penasaran.

Lalu suamiku menjelaskan bahwa para Pakdw Wan itu sedang mempersiapkan diri menyongsong Festifal Topeng Nasional. Mereka sudah menyiapkan etalase yang dihias seindah mungkin dengan bemacam-macam warna. Lalu mereka akan berjejer beramai-ramai dengan memakai topeng-topeng yang dibeli dari suamikuseperti layaknya kemeriahan sebuah parade. Untuk itu, mereka tidak segan-segan mengeluarkan uang berapa banyak pun. Karena ini adalah sebuah festival yang akan menghantarkan mereka sampai pada gerbang megah sebuah singgasana.

singgasana? Aku ingin singgasana itu. Jadikan aku seorang permaisuri,” tuasku.

Yayi…yayi…” gumam suamiku ini jelas tidak memuaskan.

Maka mulailah setiap hari aku mengomel dari pagi sampai pagi lagi. “ Kau yang membuat topeng tetapi orang lain yang kaya. Kenapa tidak kau kenakan sendiri saja topeng itu sehingga bias kaya seperti para Pakde Wan itu ?” akau merasa suamiku tampak semakin bodoh saja.


Buatlah sebuah topeng lagi. Dan ikutilah menjadi peserta Festival Topeng. Apa gunanya namamu Drajat Hartono kalau ternyata kau tidak berharta dan tidak punya jabatan”, aku masih meneruskan omelanku dengan kesal karena melihatnya begitu memanjakan topeng Ekalaya yang menurutku bodoh itu. Aku tidak mau kebodohan Ekalaya yang memotong ibu jari kanannya sendiri itu menular kepada suamiku.

aku harus membuat topeng apa, yayi ?”

Aku terlonjak saking gembiranya. Akhirnya suamiku bergeming juga.

buatlah topeng wajah Rahwana. Jika para Pakde Wan itu harus memiliki banyak topeng untuk mengubah-ubah wajahnya tetapi kau cukup memiliki sebuah topeng saja. Sebuah topeng tetapi sudah berdasamuka, bersepuluh wajah. Dan setelah itu kau adalah Drajat Hartono yang sebenarnya, laki-laki berharta dan mempunyai jabatan yang tinggi.” Sahutku menggebu-nggebu dengan penuh semangat.

Aku gembira sekali ketika suamiku mulai menyerut sepotong kayu lagi. Kali ini ia membuat topeng yang lebih besar dari sebelumnya. Wajah di topeng ini lebih banyak daripada jumlah delapan penjuru mata angin. Ada wajah dengan mata melotot sebesar meteor, ada yang bermulut besar sampai bias menelan gunung dan menghisap lautan, ada juga wajah dengan hiasan taring seperti Pangeran Drakula, dan bermacam-macam bentuk yang lain. Pokoknya, inilah topeng suamiku yang paling hebat. Setelah selesai, suamiku langsung mengenakan topeng Rahwana itu. Sehingga aku yakin takdirku menjadi permaisuri akan segera tiba.


Pada akhirnya Festival Topeng tersebut memang dimenangkan oleh Drajat Hartono si pembuat topeng yang dikenakan para Pakde Wan untuk ikut festival tersebut. Dan Prameswari istrinya merasa bangga pada suaminya karena telah berhasil mendapatkan singgasana yang selama ini dia idam-idamkan, kemanapun suaminya pergi selalu dihormati dan disegani oleh semua orang.

Berikut bukti-bukti yang menceritakan hal itu,


Bukti-bukti :

Akhirnya dengan seluruh gegap gembita, Festival Topeng berakhir juga. Dan seperti yang sudah bias kuduga sebelumnya, suamiku berhasil mendapatkan singgasana yang keidam-idamkan. Sejak itu orang-orang memanggil suamiku bukan Drajat Hartono, tukang topeng lagi. Tetapi dipanggil Pakde Wan Darajat Hartono. Dan sudah jelas namaku juga berubah. Bukan lagi Prameswari, istri tukang topeng. Sekarang aku dipanggil Prameswari Pakde Wan Drajat Hartono. Dan hidupku benar-benar bergelimang kemawahan seorang permaisuri.

Aku bangga sekali dengan suamiku. Sekarang ka mana pun ia pergi selalu dihormati banyak orang. Bila duduk, selalu diberi kursi di depan dan diberi pelayanan kelas satu. Setiap kali ia berbicara pasti banyak orang memberikan tepuk tangan. Dan ia tinggal menunjuk-nunjuk saja maka ada orang lain yang akan menyelesaikan apa yang ditunjuknya.


Jika tema dalam cerpen Festival Topeng ini dikaitkan dengan teori tingkatan tema menurut Shipley, maka tingkatan tema yang tepat untuk cerpen ini adalah Tema tingkat egoik, yaitu manusia sebagai individu man as individualism. Karena dalam kedudukanya sebagai makhluk individu manusia pun mempunyai banyak konflik, misalnya yang berwujud reaksi manusia terhadap masalah masalah sosial yang dihadapinya. Masalah individualitasnya antara lain berupa masalah egoisitas, martabat, harga diri, atau sifat dan sikap tertentu manusia lainya, pada umumnya bersifat batin yang biasanya dapat dirasakan oleh yang bersangkutan. Masalah individualitas biasanya jati diri, citra diri, atau sosok kepribadian seseorang.

Dalam cerpen Festival Topeng ini, terjadi konflik antara Prameswari dan Drajat Hartono suaminya. Dia menganggap bahwa Drajat Hartono adalah seorang yang bodoh. Karena dia membuat topeng untuk para Pakde Wan tetapi dia tidak memikirkan nasib dirinya sendiri. Menjadikan Pakde Wan kaya raya tetapi dirinya sendiri menderita.

Berikut cuplikan dialog yang mendukung teori tersebut,


Bukti-bukti :

singgasana? Aku ingin singgasana itu. Jadikan aku seorang permaisuri,” tuasku.


kau yang membuat topeng tetapi orang lain yang kaya. Kenapa tidak kau kenakan sendiri saja topeng itu sehingga bisa kaya seperti para Pakde Wan itu?”


Buatlah sebuah topeng lagi. Dan ikutilah menjadi peserta Festival Topeng. Apa gunanya namamu Drajat Hartono kalau ternyata kau tidak berharta dan tidak punya jabatan”, aku masih meneruskan omelanku dengan kesal karena melihatnya begitu memanjakan topeng Ekalaya yang menurutku bodoh itu. Aku tidak mau kebodohan Ekalaya yang memotong ibu jari kanannya sendiri itu menular kepada suamiku.


Tetapi sekarang mulai ada yang terasa menggelisahkanku. Kian hari aku semakin tidak mengenal suamiku sendiri. Aku mulai merindukan suamiku yang sederhana berwajah bersih dengan keningnya yang berseri. Suamiku, yang setiap malam mengakhiri dongengnya tentang kejujuran, pengabdian, dan kesetiaan dengan mesra “yayi…yayi…, kita sambung besok lagi, ya…”


kraaaakkkk…!!!” kupecahkan satu per satu wajah-wajah kayu itu sampai terbelah dengan bunyi berderak.

yayiiiii…..!!!” suamiku meraung sambil mendekap kesepuluh wajahnya yang telah bergelimpangan di lantai.


tidak…tidak…kau bukan Drajat Hartono, suamiku…” aku menangis kecewa melihat wajah asli suamiku berubah serupa dengan topeng Rahwana.

yayi…yayi…” makhluk itu menangis mendekap wajahnya sendiri. “ini aku..kangmasmu…” dari sela-sela jarinya, kulihat air matanya mengalir. Air mata yang berwarna abu-abu.

Aku semakin tersakiti karena mengenali suara yang sangat kurindukan. Aku mengingingkan suamiku kembali, Darajat Hartono hati legawa. Walaupun ia tanpa harta dan jabatan apa-apa tetapi selalu jujur, setia, dan berbudi mulia.


Analisis.

Dari beberapa bukti diatas dapat ditarik kesimpulan bahwasanya dalam cerpen Festival Topeng ini tema yang digunakan adalah menggunakan tema yang Nontradisional, karena dalam cerpen tersebut tidak ada pertempuran atau tidak ada konflik pribadi. Karena jika kita pertama kali membaca pasti yang terfikir adalah para Pakde Wan atau peserta festival topeng akan memenangkan lomba tersebut, dan Drajat Hartono atau pembuat topeng tidak akan mengikuti lomba tersebut.

Namun setelah kita baca sampai pertengahan, istri Drajat Hartono yaitu Prameswari mengidam-idamkan dirinya sebagai seorang permaisuri yang duduk di atas singgasana, dengan harapan itu akhirnya Prameswari menyuruh Drajat Hartono istrinya mengikuti Festival Topeng itu juga, karena dia yakin dengan topeng Rahwana yang ia kenakan, maka Drajat Hartono akan memenangkan Festival Topeng tersebut.





















  1. ALUR/ PLOT

Pengertian

Staton (1965: 14) mengemukakan bahwa plot/alur adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain.

Dalam cerpen ini alur yang digunakan sangat beragam. Peceritaan cerpen Festival Topeng dimulai dengan tahap penyituasian, karena dalam cerpen ini dimulai dengan menggambarkan angan-angan orang tua terhadap anaknya agar memiliki suami yang kaya raya.

Berikut kitipan yang menggambarkan hal tersebut,


Bukti-bukti :

Jadi sudah sepantasnya kalau orang tuaku berharap aku memiliki kemewahan hidup seorang permaisuri.

Nasibmu akan menjadi istri pejabat tinggi yang kaya raya. Paling tidak pangkat suamimu itu adalah kepala desa”. Begitulah ibu berharap aku mendapatkan suami yang kaya, berpangkat, dan mempunyai jabatan tinggi.


Cerita mulai bergerak. Dan pada tahap ini bisa disebut sebagai tahap geberating circumstance atau tahap pemunculan konflik. Hal ini digambarkan dengan harapan orang tua Premeswari yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya. Prameswari anaknya, hanya mendapatkan seorang Drajat Hartono yang bukan seorang kepala desa atau pejabat tinggi, melainkan dia hanya seorang pembuat topeng.

Hal ini dapat dilihat dari kutipan berikut,




Bukti-bukti :

Nah, suamiku bernama Drajat Hartono. Kata orang tuanya, arti namanya adalah laki-laki yang berderajat dan berharta. Tetapi ternyata tidak ada hubungannya antara nama dengan nasib manusia. Karena suamiku bukan kepala desa apalagi pejabat tinggi yang kaya raya, suamiku Cuma seorang pembuat topeng.


Setelah itu alur kembali turun. Karena Prameswari mngenalkan suaminya yang hanya seorang pembuat topeng dari kayu kepada pembaca.

Hal ini dapat dilihat dari kutipan sebagai berikut,


Bukti-bukti :

Suamiku membuat wajah-wajah dari kayu. Ia membentuk kayu-kayu itu menjadi wajah tokoh-tokoh pewayangan.


Selain membuat topeng-topeng dengan wajah wayang, suamiku juga menerima pesanan topeng wajah yang disesuaikan dengan kehendak pemesannya.


Cerita mulai menimbulkan konflik lagi setelah Prameswari kesal dengan suaminya yang sebagai seorang pembuat topeng. Topeng yang dibuatnya pun sangat banyak, sehingga topeng-topeng itu menumpuk di seluruh sudut ruangan rumahnya. Lebih kesalnya lagi, topeng-topeng itu belum laku terjual, sehingga untuk memenuhi makan sehari-hari mereka kekurangan.

Hal ini dapat dilihat dari cuplikan cerpen mulai paragraf enam dan tujuh. Berikut cuplikannya,






Bukti-bukti :

Sebetulnya aku kesal dengan pekerjaan suamiku. Karena pekerjaanya ini tidak menghasilkan uang setiap hari. Padahal kami butuh uang untuk makan setiap hari, bukan ?

Bayangkanlah, setiap hari suamiku membuat berbagai macam topeng kayu. Ia menyerut kayu sampai permukaanya menjadi halus. Lalu membentuk mata, hidung, mulut dengan telaten sehingga topeng kayu itu benar-benar menyerupai wajah manusia. Tetapi sampai saat ini tidak ada yang membelinya.


Plot: Misterius Intelektual. Yaitu plot yang menampilkan kejadian-kejadian yang mengandung konflik yang mampu menarik atau bahkan mencekam pembaca. Hal itu mendorong pembaca untuk mengetahui kejadian-kejadian berikutnya.

Dalam cerpen Festival Topeng ini juga menggunakan plot tersebut, karena jika kita membaca cerpen ini maka akan menimbulkan penasaran pada cerita-cerita selanjutnya.

Hal ini dapat digambarkan melalui beberapa dialog yang meneganggkan sebagai berikut,


Bukti-bukti :

Pada suatu ketika aku menemukan ada sesuatu yang tidak biasa. Yaitu, ternyata ada sebuah topeng yang hanya dibuat sebuah saja oleh suamiku. Dan topeng itu tidak dilemparkan ke gundukan topeng-topeng itu. Melainkan, ia meletakkan topeng yang hanya satu-satunya itu di samping tempat tidur kami.

topeng apa ini ?” tanyaku

Ekalaya”

kenapa tidak ditumpuk bersama topeng-topeng yang lain ?”

jangan, biarkan saja dia di situ,” cegah suamiku ketika aku hendak melemparkan topeng Ekalaya keluar kamar.

lalu Yayi mau dongeng apa ?”

Mataku menangkap seekor cicak lari terbirit-birit di tembok. “Ceritakan dongeng cicak dan buaya saja”. Sahutku sambil memeluknya.

Suamiku tertawa, “yayi…yayi…buat apa cerita indah yang terlalu licin itu? Lebih baik kuceritakan tentang Ekalaya saja ya?”

Kemudian sampailah kami pada suatu waktu yang terasa aneh. Mendadak saja, setiap hari rumah kami didatangi para pembeli topeng. Mereka datang dengan mobil mengkilap dan mengenakan baju safari. Jas atau batik sutra yang selalu necis dan licin. Ada yang rambutnya klimis seakan-akan sebotol minyak rambut ditumpahkan di sana. Ada yang bergaya flamboyan dengan kumisnya.


Untuk itu, mereka tidak segan-segan mengeluarkan uang berapa banyak pun. Karena ini adalah sebuah festival yang akan mengantarkan mereka sampai pada gerbang megah sebuah singgahsana.


Maka mulailah setiap hari aku mengomel dari pagi sampai pagi lagi. “ Kau yang membuat topeng tetapi orang lain yang kaya. Kenapa tidak kau kenakan sendiri saja topeng itu sehingga bias kaya seperti para Pakde Wan itu ?” akau merasa suamiku tampak semakin bodoh saja.


Aku semakin panik ketika perayaan Festival Topeng semakin dekat. Kemeriahan umbul-umbul parade sudah terlihat di mana-mana. Begitu juga topeng-topeng sudah dipajang di etalase-etalase. Dirumahku sudah tidak ada persediaan topeng lagi. Yang ada hanyalah topeng wajah Ekalaya itu. Itu satu-satunya topeng yang tidak dijual. Tepatnya, topeng wajah Ekalaya adalah satu-satunya topeng yang tidak pernah diminati para pembeli.

Buatlah sebuah topeng lagi. Dan ikutilah menjadi peserta Festival Topeng. Apa gunanya namamu Drajat Hartono kalau ternyata kau tidak berharta dan tidak punya jabatan”, aku masih meneruskan omelanku dengan kesal karena melihatnya begitu memanjakan topeng Ekalaya yang menurutku bodoh itu. Aku tidak mau kebodohan Ekalaya yang memotong ibu jari kanannya sendiri itu menular kepada suamiku.

aku harus membuat topeng apa, yayi ?”

Aku terlonjak saking gembiranya. Akhirnya suamiku bergeming juga.

buatlah topeng wajah Rahwana. Jika para Pakde Wan itu harus memiliki banyak topeng untuk mengubah-ubah wajahnya tetapi kau cukup memiliki sebuah topeng saja. Sebuah topeng tetapi sudah berdasamuka, bersepuluh wajah. Dan setelah itu kau adalah Drajat Hartono yang sebenarnya, laki-laki berharta dan mempunyai jabatan yang tinggi.” Sahutku menggebu-nggebu dengan penuh semangat.

Aku gembira sekali ketika suamiku mulai menyerut sepotong kayu lagi. Kali ini ia membuat topeng yang lebih besar dari sebelumnya. Wajah di topeng ini lebih banyak daripada jumlah delapan penjuru mata angin. Ada wajah dengan mata melotot sebesar meteor, ada yang bermulut besar sampai bias menelan gunung dan menghisap lautan, ada juga wajah dengan hiasan taring seperti Pangeran Drakula, dan bermacam-macam bentuk yang lain. Pokoknya, inilah topeng suamiku yang paling hebat. Setelah selesai, suamiku langsung mengenakan topeng Rahwana itu. Sehingga aku yakin takdirku menjadi permaisuri akan segera tiba.


Tetapi sekarang mulai ada yang menggelisahkanku. Kian hari aku semakin tidak mengenal suamiku sendiri. Aku mulai merindukan suamiku yang sederhana berwajah bersih dengan keningnya yang berseri. Suamiku yang setiap malam mengakhiri dongengnya tentang kejujuran, pengabdian, dan kesetiaan dengan mesra “yayi…yayi…, kita sambung besok lagi, ya…”





Analisis

Dari beberapa cuplikan dialog yang terdapat dalam cerpen Festifal Topeng, bahwasanya alur yang digunakan pengarang adalah alur maju dan memiliki beberapa tahapan.


























  1. PENOKOHAN

Pengertian

Menurut Jones dalam Nurgiyantoro Penokohan adalah gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita ( 1998 : 165 ), atau penokohan karakter adalah begaimana cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan watak tokoh-tokoh dalam cerita rekannya ( Esten, 1994 ).


Tokoh dalam cerpen Festival Topeng ini adalah :

Premes Wari (Aku)

Tokoh Premes Wari (Aku) mempunyai sifat mudah mengeluh, gelisah, tidak nrimo dengan pekerjaan suaminya, mudah menghayal, pemarah.

Hal ini dapat diketahui lewat kutipan sebagai berikut,


Bukti-bukti :

nasibmu akan menjadi pejabat tinggi yang kaya raya. Paling tidak pangkat suamimu itu adalah kepala desa”, begitulah ibuku berharap aku mendapatkan suami yang kaya raya, berpangkat, dan mempunyai jabatan tinggi.


Nah, suamiku bernama Drajat Hartono. Kata orang tuanya, arti namanya adalah laki-laki yang berdrajat dan berharta. Tetapi ternyata tidak ada hubungannya antara nama dengan nasib manusia. Karena suamiku bukan kepala desa apalagi pejabat tinggi yang kaya raya. Suamiku Cuma seorang pembuat topeng.


Sebetulnya aku kesal dengan pekerjaan suamiku. Karena pekerjaannya ini tidak menghasilkan uang setiap hari. Padahal kami butuh uang untuk makan setiap hari, bukan ?

Kangmas, mungkin topeng-topeng itu hendak menyerang kita. Sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu konpirasi besar-besaran,” kataku gelisah.


Bukankah seharusnya suamiku bias menjual topeng wajah Arjuna itu dengan harga seratus kali lipat.


Maka. Mulailah setiap hari aku mengomel dari pagi sampai pagi lagi.


Bodohnya lagi, suamiku juga tidak menolak ketika para Pakde Wan itu menukar topeng dengan baju kaos yang berwarna, berangka, dan ada gambar topeng yang dibelinya.


Aku masih meneruskan omelanku dengan kesal karena melihatnya begitu memanjakan topeng Ekalaya yang merutku bodoh itu.


Kraaaakkk..!!” kupecahkan satu persatu wajah-wajah kayu itu sampai terbelah dengan bunyi berderak.


Drajat Hartono

Tokoh Drajat Hartono mempunyai watak yang sabar, luwes, tekun, tlaten, bijaksana, perhatian dan penurut kepada istri, berpengetahuan luas, romantis.

Hal ini dapat diketahui lewat kutipan sebagai berikut,


Bukti-bukti :

Tidak apa-apa. Mereka hanya menginginkan etalase, sebuah tempat untuk memajang wajah mereka,tetapi kita tidak perlu membeli etalase. Karena pada waktunya nanti, topeng-topeng itu akan habis terjual semua. Dan topeng-topeng itu akan menyiapkan etalase untuk diri mereka sendiri”.


Yayi…yayi…buat apa cerita indah yang terlalu licin itu ? lebih baik kuceritakan tentang Ekalaya saja ya ?”


itu karena orang-orang tidak mengetahui ada cerita yang tak terkisahkan…”


Lalu ia menempelkan bibirnya ke telingaku. Terpaan nafasnya terasa halus.


Ssssttt…cerita ini hanya untukmu Yayi…”. Suamiku membungkam kemarahanku dengan sebuah ciuman. Ciumannya membuat kemarahanku mencair.


Sudahlah Yayi…dalam perang memang harus ada yang dikorbankan untuk sebuah kemenangan.”


Lalu suamiku menjelaskan bahwa para Pakde Wan itu sedang mempersiapkan diri menyongsong Festival Topeng Nasional.


Pakde Wan

Tokoh pakde Wan hanya bersifat figuran, karena tidak diceritakan secara jelas dan terperinci, dan disini digambarkan mereka adalah orang-orang yang kaya raya, yang tergila-gila dengan topeng buatan Drajat Hartono yang dibuat untuk mengikuti Festival Topeng.

Berikut cuplikan gambaran para Pakde Wan,



Bukti-bukti :

Mereka datang dengan mobil mengkilap dan mengenakan baju safari. Jas atau batik sutra yang selalu necis dan licin. Ada yang rambutnya klimis seakan-akan sebotol minyak rambut ditumpahkan di sana. Ada yang bergaya flamboyan dengan kumisnya.

Tampaknya mereka adalah orang-orang kaya. Mereka membayar topeng tanpa menawar. Dan mereka gembira ketika mendapatkan topeng keinginan mereka.


Mereka sudah menyiapkan etalase yang dihias seindah mungkin dengan bermacam-macam warna. Lalu mereka akan berjejer beramai-ramai dengan memakai topeng-topeng yang dibeli dari suamiku seperti layaknya kemeriahan sebuah parade. Untuk itu mereka tidak segan-segan mengeluarkan uang berapa banyak pun. Karena ini adalah sebuah festival yang akan menghantarkan mereka sampai pada gerbang megah sebuah singgasana.


Analisis

Premes Wari (Aku) sebagai tokoh utama,

Karena masalah pertama muncul dari seorang Prameswari yang mempunyai suami sebagai seorang pembuat topeng, dan itu tidak sesuai dengan apa yang diidam-idamkan sebelum dia menikah. Dan Prameswari ini memiliki sifat yang antagonis, karena dia mudah sekali marah terhadap suaminya yang bekerja sebagai pembuat topeng.


Drajat Hartono sebagai tokoh utama juga,

Karena cerita ini juga mengangkat nasib seorang pembuat topeng yang awalnya tidak disukai oleh istrinya. Dan Drajat Hartono mempunyai peran sebagai tokoh yang protagonis, karena dia selalu sabar dalam menghadapi istrinya yang selalu memaki dia dan pekerjaannya yang tidak bisa mencukupi kehidupannya sehari-hari.






Pakde Wan,

Tokoh ini tidak diceritakan secara jelas dan terperinci,karena tokoh Pakde Wan adalah hanya sebagai tokoh figuran, dan disini digambarkan mereka adalah orang-orang yang kaya raya, yang tergila-gila dengan topeng buatan Drajat Hartono yang dibuat untuk mengikuti Festival Topeng.


























  1. LATAR

Pengertian

Latar atau setting yang disebut juga sebagai landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Abrams, 1981: 175).


Latar Tempat

Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur-unsur tempat yang digunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu, inisial tertentu, mungkin lokasi tertentu dengan nama yang jelas.

Cerpen Festival Topeng ini mempunyai latar di rumah dan lapangan, berikut kutipan yang menggambarkan hal itu,


Bukti-bukti :

Akhirnya, topeng-topeng itu hanya menumpuk di seluruh sudut ruangan rumah.


dan topeng itu tidak dilemparkannya ke gundukan topeng-topeng itu. Melainkan, ia meletakkan topeng itu di samping tempat tidur kami.


jangan, niarkan saja dia disitu,” cegah suami ku ketika aku hendak melemparkan topeng Ekalaya keluar kamar.


Rumah kami yang kecil sudahj dipenuhi tumpukan topeng


Mereka sudah menyita banyak tempat dengan bergerombol di ruang tamu, di meja makan, di dapur, sampai di kamar mandi.

Satu-satunya tempat yang tanpa topeng adalah kamar tidur.

Dikamar, aku bebas bermanja-manja pada suamiku tanpa kuatir ada topeng yang mengintip dan menguping kegiatan bercinta kami.

Mataku menangkap seekor cicak lari terbirit-birit di tembok.


Aku setuju karena aku pun ingin tahu kenapa ia sampai meletakkan topeng Ekalaya itu di samping tempat tidur.


Sampai akhirnya rumah kami berubah seperti tempat penimbunan kaos.


Latar Waktu

Latar waktu berhubungan dengan “kapan” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Masalah kapan tersebut bias dihubungkan dengan waktu faktual, waktu yang ada kaitannya atau dapat dikaitkan dengan peristiwa sejarah pengetahuan dan persepsi pembaca terhadap waktu sejarah itu kemudian dipergunakan untuk mencoba masuk ke dalam suasana cerita pembaca berusaha memahami dan menikmati cerita berdasarkan acuan waktu yang diketahuinya yang bersal dari luar cerita yang bersangkutan.

Waktu yang terjadi dalam cerpen Festival Topeng yaitu di zaman modern, karena kata-kata yang digambarkan dan kondisi kehidupan yang digambarkan sudah modern. Namun disisi lain juga menggambarkan kehidupan pewayangan pada masa lalu.

Hal ini dapat dilihat dari kehidupan para Pakde Wan yang digambarkan melalui kutipan berikut,


Bukti-bukti :

Mereka datang dengan mobil mengkilap dan mengenakan baju safari. Jas atau batik sutra yang selalu necis dan licin. Ada yang rambutnya klimis seakan-akan sebotol minyak rambut ditumpahkan di sana. Ada yang bergaya flamboyan dengan kumisnya.

Tampaknya mereka adalah orang-orang kaya. Mereka membayar topeng tanpa menawar. Dan mereka gembira ketika mendapatkan topeng keinginan mereka.


Ekalaya rela memotong ibu jari kanannya sebagai bukti baktinya kepada Durna. Walaupun dengan demikian maka Ekalaya tidak bias menjadi pemanah ulung lagi. Padahal diam-diam Durna memberikan ibu jari itu kepada Arjuna.


Jadi ibu jari Arjuna ada dua. Dan Arjuna selalu menyembunyikan cacatnya itu karena malu. Tetapi tidak ada yang tahu kalau Arjuna sebenarnya berjari sebelas.


Latar Sosial

Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks. Ia dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berfikir dan bersikap, dan lain-lain yang tergolong latar spiritual seperti yang dikemukakan sebelumnya. Di samping itu latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan, misalnya rendah, menengah, atau atas.

Latar sosial yang digambarkan dalam cerpen Festival Topeng yaitu tentang kehidupan seorang pembuat topeng yang akan dijualnya kepada orang-orang yang menginginkan topeng tersebut untuk diikutkan dalam sebuah festival topeng. Namun pekerjaan tersebut tidak disenangi istrinya karena penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Hal itu digambarkan oleh beberapa kutipan dialog dibawah ini,




Bukti-bukti:

Nah, suamiku bernama Drajat Hartono. Kata orang tuanya, arti namanya adalah laki-laki yang berderajat dan berharta. Tetapi ternyata tidak ada hubungannya antara nama dengan nasib manusia. Karena suamiku bukan kepala desa apalagi pejabat tinggi yang kaya raya. Suamiku Cuma seorang pembuat topeng.


Selain membuat topeng-topeng dengan wajah wayang, suamiku juga menerima pesanan topeng wajah yang disesuaikan dengan kehendak pemesannya. Ada yang memesan topeng wajah dengan mimic sedang tertawa lebar atau sedang tersenyum simpul. Ada juga yang minta dibikinkan topeng berwajah bijaksana dan berwibawa.


Sebetulnya aku kesal dengan pekerjaan suamiku. Karena pekerjaannya ini tidak menghasilkan uang setiap hari. Padahal kami butuh uang untuk makan setiap hari, bukan ?


Cerpen ini menggambarkan kehidupan orang jawa, hal itu dapat dilihat dari bahasa yang digunakan para tokoh dan situasi-situasi yang digambarkan dalam cerpen, misalnya menceritakan tentang tokoh pewayangan, dan sebutan “Yayi” untuk seorang istri. Dan panggilan “Pak De”.

Hal itu dapat dilihat dari kutipan dialog sebagai berikut,


Bukti-bukti :

Suamiku membuat wajah-wajah dari kayu. Ia membentuk kayu-kayu itu menjadi wajah tokoh-tokoh pewayangan. Ada wajah Kresna, manusia setengah dewa, titisan Dewa Wisnu. Ada wajah Bisma, putra Gangga, satria Hastinapura yang tidak bias mati. Ada wajah Arjuna, salah satu Pandawa yang paling dipuja. Sampai ada pula wajah Durna, guru Hastinapura yang sangat dihormati.

Yayi…yayi…buat apa cerita indah yang terlalu licin itu ? lebih baik kuceritakan tentang Ekalaya saja ya ?”


Ssssttt…cerita ini hanya untukmu Yayi…”. Suamiku membungkam kemarahanku dengan sebuah ciuman. Ciumannya membuat kemarahanku mencair.


Sudahlah Yayi…dalam perang memang harus ada yang dikorbankan untuk sebuah kemenangan.”


Yayi….yayi….gumam suamiku ini jelas tidak memuaskan.


Lalu suamiku menjelaskan bahwa para Pakde Wan itu sedang mempersiapkan diri menyongsong Festival Topeng Nasional.


Analisis

Berdasarkan bukti-bukti yang terdapat dalam cerpen tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa latar dalam cerpen ini sangat berfariasi, mulai dari latar tempat, latar waktu, dan latar social dan bahasa yang digunakan juga sangat jelas kalau itu menggambarkan masyarakat jawa.









  1. SUDUT PANDANG

Pengertian

Sudut pandang menyaran pada cara sebuah cerita dikisahkan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca. ( Abrams, 1981 : 142 )

Dalam cerpen Festival Topeng ini, sudaut pandang yang digunakan adalah Sudut Pandang Persona Pertama “ Aku “, dalam pengisahannya narrator adalah seseorang yang ikut terlibat dalam cerita, ia adala si akutokoh yang berkisah yang mengisahkan kesadaran dirinya sendiri.

Aku “ Tokoh Utama, mengisahkan berbagai cerita yang menjadi fokos dalam sebuah karya sastra

Aku “ Tokoh Tambahan,, merupakan tokoh yang sebagai saksi terhadap berlangsungnya cerita yang ditokohi oleh orang lain.

Yaitu seorang Prameswari (aku) yang diawali dengan memperkenalkan dirinya, lau suaminya, pekerjaan suaminya, serta akhir nasib dari dirinya sendiri dan suaminya.

Berikut cuplikan dialog yang membuktikan tentang hal tersebut,


Bukti-bukti :

Namaku Prameswari. Kata orang tuaku, arti namaku adalah permaisuri. Karena aku dilahirkan dengan kecantikan seorang putru. Jadi sudah sepantasnya kalau orang tuaku berharap aku memiliki kemewahan hidup seorang permaisuri.


Nah, suamiku bernama Drajat Hartono. Kata orang tuanya, arti namanya adalah laki-laki yang berdrajat dan berharta. Tetapi ternyata tidak ada hubungannya antara nama dengan nasib manusia. Karena suamiku bukan kepala desa apalagi pejabat tinggi yang kaya raya. Suamiku Cuma seorang pembuat topeng.


Sebetulnya aku kesal dengan pekerjaan suamiku. Karena pekerjaannya ini tidak menghasilkan uang setiap hari. Padalah kami butuh uang untuk makan setiap hari, bukan?


Pada suatu ketika, aku menemukan ada sesuatu yang tidak biasa. Yaitu, ternyata ada sebuah topeng yang hanya dibuat sebuah saja oleh suamiku. Dan topeng itu tidak dilemparkannya ke gundukan topeng-topeng itu. Melainkan, ia letakkan di samping tempat tidur kami.


Analisis

Dari beberapa cuplikan cerita diatas, dapat disimpulkan bahwasanya penganrang menggunakan sudut pandang orang pertama, yaitu ditandai dengan kata “aku” dari awal hingga akhir cerita.













  1. BAHASA

Pengertian

Gaya bahasa adalah teknik pengolahan bahasa oleh pengarang dalam upaya menghasilkan karya sastra yang hidup dan indah. Pengolahan bahasa harus didukung oleh diksi (pemilihan kata) yang tepat. Namun, diksi bukanlah satu-satunya hal yang membentuk gaya bahasa.

(http://hadirukiyah.blogspot.com/2009/06/p-r-o-s-f-i-k-s-i-tentang dasar-dasar_20.html)

Hal yang tidak boleh diabaikan dalam membaca sebuah karya sastra adalah nada dalam bahasa yang digunakan oleh pengarang terhadap karya sastra nya. Membaca sebuah karya sastra biasanya kita akan merasakan adanya nada (dan suasana) tertentu yang tersirat dari karya sastra tersebut, khususnya yang disebabkan oleh efek pemilihan unkapan bahasa. Sebuah karya sastra mungkin menyiratkan nada yang bersifat intim, santai, dan simpatik, yang lain mungkin bersifat romantis, mengharukan, dan sentimental, atau kasar dan sinis. Pemilihan bentuk ungkapan tertentu dalam suasana cerita tertentu akan membangkitkan nada yang tertentu pula.

Dalam cerpen Festival Topeng ini pengarang menggunakan bahasa yang jelas dan mudah difahami oleh pembacanya, sehingga pembaca tidak usah mencarilagi maksud dari bahasa yang diungkapkan pengarang. Begitu juga dengan nada yang digunakan, pengarang menggunakan nada yang jelas dan mudah difahami, baik itu suasana santai, romantis, mengharukan, simpatik, sedih, marah, atau gembira.

Hal itu dapat kita lihat dari kutipan dialog sebagai berikut,

2 komentar:

Unknown mengatakan...

my hawk, how moo? peel lair

Unknown mengatakan...

Cerpen tersebut banyak sekali mengandung kata kiasan, cerpen tersebut memiliki makna tentang dunia politik. Yang dimaksudkan karakter pakde wan itu ialah PAK DEWAN,makna dari Festival topeng nasional ialah PEMILU, DAN BESERTA KARAKTER-KARAKTER TOPENG WAYANG DI DALAM CERITA MENGGAMBARKAN SIKAP/WATAK ORANG TERSEBUT

Powered By Blogger

AKU CINTA INDONESIA

AKU CINTA INDONESIA